Home » » DISKUSI BEDAH BAHAN NASKAH DRAMA REVOLUSI BERDARAH RAJA RAJA SIMALUNGUN SERI -1

DISKUSI BEDAH BAHAN NASKAH DRAMA REVOLUSI BERDARAH RAJA RAJA SIMALUNGUN SERI -1

Written By Rosenman Manihuruk (Asenk Lee Saragih) on Jumat, 11 November 2011 | 07.56

Foto Komunitasjejak Simaloengoen).

DISKUSI BEDAH BAHAN NASKAH DRAMA REVOLUSI BERDARAH RAJA RAJA SIMALUNGUN SERI -1

“Tak ada satu pun yang berani dan dapat mencegah pembunuhan waktu itu. Jika seseorang berani mencegah, maka ia akan turut pula menjadi korban.”

Diskusi mengetengahkan latar belakang situasi kekuasaan dan politik yang masih kacau setelah kekalahan jepang dan diproklamasikan kemerdekaan, bahwa ada gerakan yang menjalar paham kiri (komunis) dari Medan, Langkat, Deli Serdang hingga ke simalungun pada waktu itu, yaitu Barisan Harimau Liar. Imbasnya, muncul ketegangan di antara kaum pergerakan nasionalis dan kaum aristokrat (raja raja).

Pecah pemberontakan PKI di jawa dan Sumatera (1926-1927), para tokoh PKI banyak yang ditangkap dan dibuang Belanda ke Boven Digul Papua, al :
1. Seorang pemuda Batak TOBA terpelajar berpendidikan Belanda, URBANUS PARDEDE (kelak memimpin aksi revolusi sosial di simalungun dan mengganti Maja Purba sebagai Bupati Simalungun)
2. Xarim MS, seorang ahli pidato dan tokoh komunis terkemuka di Aceh
3. Saleh Umar, pernah memimpin PNI, Partindo, dan Gerindo
4. Jakub Siregar, aktif politik bersama Saleh Umar

Pada tahun 1944, mereka membentuk dan memimpin organisasi rahasia sebagai suatu organisasi militer di bawah pelatihan pimpinan Inoue (seorang perwira Jepang). Organisasi tersebut bernama Barisan Harimau Liar. Pemuda di rekrut, sedangkan Saragihras sebagai komandan BHL di simalungun lebih berperan sebagai eksekutor atas perintah dari para aktor intelektual di atasnya.


JALANNYA PEMBANTAIAN DI PANEI


Pada masa itu yang memerintah di Panei adalah Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha. Pada hari Minggu pagi, 3 Maret 1946 Tuan Mailan Purba Dasuha, anak tertua dari Tuan Marjandi (adik kandung Raja Panei/Tuan Anggi Panei) menginformasikan kepada keluarga raja Panei di Pematang Panei bahwa akan ada malam itu gerakan revolusi sosial terhadap raja raja dan sultan sultan, supaya raja dan keluarga menyelamatkan diri ke rumah pesanggerahan raja Panei di Jl. Sekolah (kini jl. Sudirman) Pematang Siantar.

Pada hari itu juga, Tuan Nagapanei (berdasarkan informasi dari Richard Nainggolan) melaporkan kepada raja Panei bahwa AE Saragihras dan laskarnya yang sudah terlatih akan datang menculik dan menjarah ke istana raja, supaya raja maklum dan segera menyelamatkan diri.

Anehnya meskipun raja Panei sudah mengetahui akan kedatangan pasukan BHL pimnpinan laweinya sendiri AE Saragihras itu, dia tidak bergeming,
tidak menyelamatkan diri ke Pematang Siantar. Pihak istana hanya melakukan tindakan antisipatif dengan menempatkan pengawal yang terdiri dari laskar Pesindo dengan pengawalan Raja Muda Panei Tuan Margabulan Purba Dasuha dan adik adiknya yang sudah dewasa.

Menurut Tuan Kamen Purba, abangnya Raja Muda pada waktu itu sudah aktif di pasukan Marsose yang berjuang melawan Belanda. Rakyat yang berkumpul pada waktu itu di sekitar istana menjaga keselamatan raja dan keluarganya. Tuan Aliamta Purba yang masih berumur 5 tahun pada waktu itu sedang sakit dikelilingi oleh kelurga besar raja. Di tengah malam tiba-tiba listrik padam, rupanya pasukan BHL sudah mengepung istana.

Pasukan pengawal tidak berdaya menghadapinya, ada yang tewas dan sebagian diikat. Pasukan BHL berjumlah lebih kurang 50 orang itu naik ke istana, mereka tidak berbicara dan memakai penutup wajah. Serempak mereka masuk dan menjarah seluruh istana raja membawa karung masuk ke dalam kamar perbendaharaan raja, mengambil emas banyak sekali dari peti, uang perak gulden dan uang kertas Jepang. Pokoknya semua disikat tidak ada yang ketinggalan.

Raja, raja muda dan Tuan Djautih dan seluruh perempuan dewasa diikat tangannya. Senjata revolver rajamuda turut dirampas. Seluruh isi istana dijarah dan raja, dua puteranya dan 28 rakyat yang tidak rela meninggalkan rajanya turut diikat dan dinaikkan ke dalam 2 buah truk. Iringan BHL berjalan menuju ke Tigaras, sepanjang perjalanan raja Panei disiksa dan akhirnya seluruh rombongan dibunuh dengan sadis di Nagori, dekat Tiga Sibuntuon.

Beruntung Tuan Marga Idup Purba dan Tuan Iden, Tuan Abraham dan adik-adiknya berhasil melarikan diri dari istana berlari ke Nagahuta melewati kebun teh ke tempat markas tentara Jepang yang pada Minggu siang masih sempat berkunjung ke istana. Dari sana berangkat ke Pagarjawa dan dijemput pasukan TRI dan diamankan di pematangsiantar (rumah Tuan Madja Purba Bupati Simalungun).

Tuan Kamen sendiri pada malam itu bersama denggan Inang Bona (Puang Bona), isteri raja Panei/puteri dari Siantar di ladang raja Panei di Nagahuta. Abangnya Tuan Nalim sedang bersekolah di Pematangsiantar. Rumah pesanggerahan raja Panei di Jl. Sekolah (sekarang Jl. Sudirman) sudah dikuasai BHL dan dijadikan markas mereka. Mobil pribadi raja Panei dirampas dan dipakai Urbanus Pardede yang sudah mengkudeta Tuan Madja Purba sebagai Bupati.

Harta raja Panei habis disikat dan istana (rumah panggung berasiterktur semi Melayu) kemudian dibakar atas pimpinan seorang marga Sinaga. Sedangkan Rumah Bolon yang merupakan istana lama utuh tetapi puluhan tahun tidak terawat runtuh dimakan usia, karena ketiadaan perawatan.

Sesudah berita penculikan raja Panei terdengar oleh TRI, maka tentara pun mengejar jejak BHL ke arah Saribudolok dan Tigaras. Akhirnya mereka menemukan mayat keluarga aristokrat Panei berikut rakyat yang telah tewas mengenaskan itu.

Sumber : Revolusi Sosial di Simalungun (makalah), Juandaha Raya Purba,Oktober 2010 (Dikutip Dari Facebook : Komunitasjejak Simaloengoen).
Share this article :

Posting Komentar