Wawancara Redaksi Buletin AB GKPS Dengan Ny St RK Purba Pakpak Boru Sitepu (Op Sem) "Bekerjalah Dengan Tulus"

Ny St RK Purba Pakpak Boru Sitepu (Op Sem), Selasa (14/7/2026).(Foto-Foto By: Moses Juneri Manihuruk).
  

JAMBI-Departemen Bidang Kesaksian Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) dan Redaksi Buletin Ambilan Pakon Barita (AB GKPS) melakukan wawancara dan bincang-bincang selama 2 jam dengan Ny St RK Purba Pakpak Boru Sitepu (Op Sem) lewat Virtual (Zoom), Selasa 14 Juli 2026. 
 
Proses wawancara berjalan dengan baik. Tulisan Khusus hasil wawancara ini terbit di Buletin AB GKPS Edisi Agustus 2026. Silahkan baca Tulisan Khusus ini. Momen wawancara virtual ini dibagikan oleh Moses Juneri Manihuruk. (AsenkLeeSaragih/ Foto Moses Juneri Manihuruk)
 
   
 
 

Hasaksian

BEKERJALAH DENGAN TULUS

Pertumpun Sitepu

Ny. Alm. St. Raja Kumpul Purba Pakpak

Di kota yang indah, segar, dan nyaman, Kota Kabanjahe yang dikenal sebagai penghasil berbagai jenis sayuran dan buah, di sanalah inang (ibu) Pertumpun Sitepu lahir pada tanggal 16 Juni 1950. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup diberkati, yaitu dari pasangan bapak Nangari Sitepu dan inang Semal Sembiring. 

Sebagai anak bungsu, ia tentu menjadi anak yang disayang dan mendapat perhatian khusus dari orang tua serta saudara-saudaranya. Ia menempuh pendidikan SD dan SMP di Kabanjahe, lalu melanjutkan ke Sekolah Kepandaian Putri di Kota Medan pada tahun 1965.

Ia memutuskan untuk menikah dengan pria pujaan hatinya yang kebetulan juga merupakan anak ni amboru (sepupu) dari Kampung Hinalang, yaitu almarhum St. R.K. Purba. Sang suami sejak masa SMA telah tinggal di rumah mereka karena dipercayakan oleh orang tuanya agar dididik dengan baik. 

Setelah tamat SMA, sang suami diberangkatkan dengan doa dan semangat oleh sang tulang, lalu melanjutkan kuliah ke Jakarta. Setelah lulus kuliah dan bekerja, almarhum St. R.K. Purba kembali ke Kabanjahe untuk menemui sang pujaan hati.

Sekalipun terdapat perbedaan usia 11 tahun, inang Pertumpun Sitepu menerima lamaran paribannya tersebut. Ternyata, namboru dan mangkela juga telah lama mendoakan supaya dialah yang akan mewariskan garis keturunan keluarga besar Tuan Hinalang (ase mangulaki boru tondong ni bapa). Setelah diberkati, pada tanggal 27 Februari 1969, mereka memutuskan untuk membangun bahtera rumah tangga di Jakarta.

Ada sebuah kenangan yang tak terlupakan di awal pernikahan mereka. Sembari tersenyum, ia mengisahkan,

“Selama 2 bulan pernikahan, saya tidak diperbolehkan untuk memasak di rumah yang kami kontrak. Setiap hari selalu diajak makan keluar dan selalu di rumah makan yang sama. Awalnya aku bahagia saja karena merasa sangat diratukan oleh pujaan hati. Tetapi, akhirnya muncul pertanyaan di hati: kenapa ya harus di tempat yang sama setiap hari?”

Saat makan, sang suami selalu meminta izin sebentar untuk keluar dengan alasan ada hal yang perlu diurus. Dengan polosnya, Inang ini dengan sabar menunggu di rumah makan itu sampai sang suami kembali. 

Suatu hari, karena rasa ingin tahu yang besar, Inang ini mengikuti dari belakang untuk melihat ke mana kekasihnya pergi. Ternyata, di luar dugaan, ia melihat suaminya sedang berjualan di pinggir jalan di daerah Roxy, Jakarta. 

Suaminya berjualan di satu kios kecil dengan dua tong besar yang di atasnya terdapat beberapa botol minyak oli motor. Inang ini baru mengetahui bahwa pekerjaan suaminya selama ini adalah menjual minyak eceran. Hatinya mulai kacau, tetapi tidak ada perdebatan yang terjadi. Dia menyimpan semua hal itu di dalam hati. Namun, secara diam-diam dia menulis surat kepada orang tuanya tentang apa yang sebenarnya dia alami. Dia ingin pulang karena pekerjaan suaminya tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Di luar dugaan, jawaban dari sang ayah justru membuat hatinya menjadi teguh. Sang ayah memberi nasihat: “Percayalah, orang yang berjuang seperti itulah yang nanti akan berhasil dalam hidupnya.” Ungkapan yang singkat namun bernas itu membuatnya sadar dan memiliki cara pandang baru tentang harapan di masa depan.

Sesaat Inang ini berefleksi, apakah bisa terjadi kehancuran keluarga apabila ada pihak yang kurang tepat dalam memberi nasihat? Sikap saling terbuka, saling menerima, dan saling menguatkan membuat keluarga mereka tetap tegar menghadapi setiap tantangan dalam rumah tangga. 

Tentu ini juga menjadi pesan pengingat dalam rangka perayaan Minggu Olob-Olob keluarga, sehingga Injil menerangi setiap keluarga untuk tetap bersukacita. Sekalipun di tengah bahtera rumah tangga mungkin ada banyak hal yang harus dihadapi, tetapi ada Tuhan yang memenangkan hati kita untuk terus mengayuh bersama.

Fokus Mengurus Keluarga

Dengan kondisi rumah yang masih mengontrak di daerah Salemba, Tuhan selalu membuka setiap pintu berkat. Sang suami, almarhum St. R.K. Purba, ternyata juga termasuk aktivis sejak tahun 1965. Ia bergabung dengan Bapak Cosmos Batubara yang kebetulan sama-sama berasal dari daerah Hinalang. Tuhan mempertemukan mereka dengan pengusaha yang pada akhirnya membawa keluarga ini bekerja ke daerah Jambi.

Keputusan untuk pindah ke Jambi sudah bulat, dan Inang Pertumpun Sitepu mendukung penuh keputusan sang suami untuk memulai pekerjaan yang baru. Sebagai seorang istri yang merawat 5 orang anak dengan jarak umur yang berdekatan, ia memutuskan untuk fokus merawat keluarga. Keluarga adalah harta yang paling berharga. Saat sang suami sibuk bekerja, peran penting istri menjadi garda terdepan untuk fokus pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Sekalipun hal itu tentu tidak mudah.

“Sebagai ibu rumah tangga, tentu ini pekerjaan yang tidak ada batasan jam kerjanya,” tuturnya penuh haru.

Adapun kelima anaknya kini telah menikah dan dikaruniai 14 cucu.


(Pahompu: 9 laki-laki dan 5 perempuan)

  1. Martha Sryulina Purba
    Daniel D. Pratama
    dr Naomi Rima Claudia
    Maria Jessica Cecilia
  2. St. Awal Juni Darwan Damanik, SE, MM
    Maria Purba, SE, MBA
    Alma Theresa Stefanova Damanik, BBA
    Rafael Stefario Damanik
    Maxwell Surahita Damanik
  3. Petrus Hilman DT Purba, BBA
    A.T. Ramashinta Haloho, ST
    Samuel Januardo Purba, BSC
    Immanuel Aprilio H. Purba
    Pauline Zefanya M. P. Purba
  4. Pontas Pandapotan Sitanggang, S.Kom., MM
    Christina Glorya Purba
    Nadia Amaris Sitanggang
    Nediva Uli Tio Amaris Sitanggang
    Nahum Amario Sitanggang
    Nadine Claresta Amaris Sitanggang
  5. Monica Tri Oktorina Purba, SE, M.Sc.
    Christoper Rungkat
    Lucas Benyamin Rungkat

Mendukung Pembangunan GKPS Jambi

Awalnya mereka beribadah di Gereja GPIB karena saat mereka pindah ke Jambi belum ada Gereja GKPS. Dalam pertemuan beberapa keluarga Simalungun yang merantau ke Jambi, mulailah ada percakapan untuk mengadakan ibadah bersama dalam bahasa Simalungun. Tantangan tentu ada. 

Dalam perjuangan tersebut, mereka sempat 5 kali pindah tempat beribadah. Namun, dengan campur tangan Tuhan yang penuh kuasa, kebersamaan, dan semangat mar-GKPS mampu mengalahkan semua tantangan itu. Akhirnya, pada tahun 1984, berdirilah GKPS Jambi.

Inang ini memang tidak mendapat jabatan pelayanan sebagai Sintua atau Syamas. Namun, ia aktif di kepengurusan Seksi Perempuan/Inang GKPS. Dia terpilih selama 2 periode (10 tahun) menjadi Ketua Inang GKPS Jambi, dan 2 periode (10 tahun) menjadi Ketua Inang Resort Jambi.

Semangat penginjilan telah dinyatakannya lewat perbuatan nyata. Saat itu, alat transportasi masih sulit dan jarak tempuh rumah warga Simalungun termasuk sangat berjauhan. Inang ini aktif mengantar jemput anggota jemaat agar bisa hadir beribadah. 

Ia mengenang saat itu, satu kata kunci yang ia pegang adalah "kerinduan untuk mengabdi" atau semangat pangarahon ase parsimada bani GKPS (mengajak agar memiliki rasa memiliki terhadap GKPS).

Semangat almarhum St. R.K. Purba bersama dengan semua jemaat GKPS Jambi saat itu untuk membangun GKPS di wilayah Jambi tetap berkobar. Hal itu tentu tidak lepas dari peran serta sang istri, Inang Pertumpun Sitepu. Sebuah prinsip yang selalu dipegangnya adalah "ulang bessut" (jangan cemberut). Rumah mereka menjadi tempat singgah dan perkumpulan keluarga maupun orang yang merantau ke daerah Jambi kala itu.

Mungkin hal ini sesuai dengan nama yang telah diberikan dan didoakan oleh orang tuanya, yaitu Pertumpun, yang dalam bahasa Indonesia berarti "perkumpulan/pertemuan." "Supaya aku menjadi tempat perkumpulan yang menyatukan banyak orang," ungkapnya dengan senyuman.

Semangat kebersamaan jemaat GKPS Jambi kemudian membuka pos pekabaran Injil ke daerah-daerah sekitar untuk mengunjungi dan mendukung orang Simalungun yang merantau ke daerah Jambi. 

Maka, terbentuklah GKPS Muara Bungo, GKPS Bangko, GKPS Sumber Sari, GKPS Suka Makmur, dan GKPS Simpang TKA. Semangat penginjilan itu tidak hanya di daerah Jambi, tetapi meluas sampai ke Palembang sehingga terbentuklah GKPS Palembang.

Peran serta seorang Inang mungkin terkadang tidak tercatat secara resmi dalam sejarah terbentuknya gereja. Namun, di balik keberhasilan almarhum St. R.K. Purba dalam pelayanan di gereja dan usaha yang mereka kelola, tentu ada seorang istri yang tangguh, pendoa, dan penopang.

Benarlah ungkapan yang mungkin sudah sering kita dengar: "Di balik kesuksesan seorang suami, ada istri yang hebat yang telah mendukungnya." Ia selalu berusaha melakukan sesuatu dengan tulus dan ikhlas, serta percaya bahwa Tuhan akan selalu membuka jalan berkat dengan cara-Nya. Menerima setiap orang yang berkunjung bahkan mendukung hamba Tuhan pasti akan menghantarkan berkat bagi kehidupan kita.

Menjalani Masa Lansia dengan Mendukung Seksi Sekolah Minggu

Cinta dan perhatian Oppung ini sangat luar biasa kepada Seksi Sekolah Minggu. Dia berucap, "Guru Sekolah Minggu tidak sama dengan guru di sekolah. Kita melihat bagaimana pengorbanan mereka mengajari firman Tuhan kepada anak-anak kita. 

Tidak ada gaji, tetapi penuh semangat dan keikhlasan. Memberi perhatian khusus kepada guru Sekolah Minggu itu penting sekali. Saya sering memperhatikan bagaimana kelelahan mereka setiap minggu. Terkadang mereka tidak ada waktu untuk duduk manis seperti kita yang beribadah di gereja. Mereka sibuk menjaga dan mengajari anak-anak kita yang mungkin banyak tingkah," terangnya. (Disadur Dali Buletin AB GKPS Edisi Agustus 2026)

 Berita Terkait St RK Purba Pakpak:

 
 
 
 













































Galeri Foto St RK Purba Pakpak Dalam Kenangan.







































 

0 Komentar