Pdt Jenus Purbasiboro adalah rohaniawan (pendeta) di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Gereja ini adalah hasil pemandirian dari ekslusi HKBPS atau Huria Kristen Batak Protestan Simalungun sejak tanggal 1 September 1963.
Pemandirian eksklusi HKBPS menjadi GKPS adalah perjuangan panjang sejak 5 Oktober 1952 lewat Sinode Agung HKBP yang meminta pemandirian menjadi GKPS yang terpisah dari HKBP.
Beberapa nama yang pantas dicatat pada gerakan pemandirian eksklusi HKBPS menjadi GKPS ini adalah seperti Djaulung Wismar Saragih, Andaraya Wilmar Saragih, Jenus Purbasiboro, Kerpanius Purba, Jonathan Purba, Lesman Purba dan lain-lain.
Pada tahun 1950, Jenus Purbasiboro menjabat sebagai Praeses Distrik Kahean di HKBPS. Jenus Purbasiboro pada sidang agung HKBP tahun 1952 tidak setuju pemisahan total HKBPS dari HKBP.
Karena itu, sinodisten istimewa digelar untuk menentukan nasib HKBPS yakni menjadi sebuah distrik tersendiri di HKBP. Pada sidang tahun 1952 itu, terpilih J. Wismar Saragih sebagai wakil Eporus dan A. Wilmar Saragih sebagai Sekretaris Jenderal.
Setelah berdirinya HKBPS, maka 2 September 1952, HKBPS melakukan Jubileum 50 tahun Pekabaran Injil di Simalungun.
Pada saat itu, Jenus Purbasiboro menulis buku berjudul : 50 Tahun Injil Kristus di Simalungun : Pesta Omas ni HKBP Simalungun, 2 September 1903-1953.
Pada 18 September 1961, Jenus Purbasiboro menjadi salah satu panitia panjaeon HKBPS dari HKBP.
Pada 2 September 1963, dilaksanakan serah terima panjaeon HKBPS yang diterima Jenus Purbasiboro yang kemudian berganti nama menjadi GKPS.
Kemudian, Jenus Purbasiboro adalah Ephorus (pimpinan tertinggi) GKPS pasca dimandirikan pada 1 September 1963 hingga 1970.
Panjaeon atau pemandirian atau tepatnya pemisahan institusi religi itu ditandatangani GHM Siahaan (Wakil HKBP) dan Jenus Purba Siboro (mewakili HKBPS).
Penandatangan berlangsung di Gereja HKBPS (kini GKPS Sudirman) Pematangsiantar. Pada tahun 1933-1938 menurut sumber Dasuha dan Sinaga (2003) disebutkan berdiri Kongsi Laita di Sondiraya, dimana Jenus Purbasiboro berada didalamnya.
Pada tahun 1949, Jenus Purbasiboro menjadi salah satu pendeta (rohaniawan) yang berasal dari Simalungun disamping Kerpanius Purba, A. Wilmar Saragih, Jonathan Purba dan Djaulung W. Saragih).
Selanjutnya, pada tahun 1964, Jenus Purbasiboro lewat institusi GKPS mendirikan pusat pendidikan GKPS di Pematangraya, termasuk pembangunan asrama putra dan putri di Pematangraya.
Kemudian, pada tahun itu juga, GKPS terdaftar sebagai anggota di Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang berpusat di Jakarta.
Selanjutnya, pada tahun 1965, Jenus Purbasiboro dari GKPS bekerjasama dengan RMG Jerman mendirikan Pusat Latihan Pertanian (PLP) pada lahan seluas 33 hektar di Siantar.
Walaupun sempat mendapat penolakan dari Partai Politik di Siantar terkait peruntukan 33 hektar lahan bagi PLP GKPS, namun karena dukungan Radjamin Purba, Bupati Simalungun proses peruntukan itu dapat berjalan mulus. PLP GKPS ini berganti nama menjadi Pelayanan Pembangunan atau Pelpem GKPS dan pada tahun 1981 mendapat apresiasi Kalpataru dari Pemerintah Indonesia.
Referensi:
1. Damanik, Erond L. 2018.
Potret Simalungun Tempoe Doeloe Mengenal kebudayaan lewat foto. Medan : Simetri Institute.(FB:Rado W Purbadagambir)


0 Komentar