Sumber foto: DGI/PGI. (berbagai sumber). Keterangan foto: Dokumentasi penandatanganan surat kemandirian HKBP Simalungun yang kemudian menjadi GKPS.
Pamatangsiantar-Sejarah Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Salah satu momentum paling bersejarah adalah penandatanganan surat Panjaeon atau pemberian kemandirian kepada HKBP Simalungun pada 1 September 1963 di Jalan Sudirman, Pamatangsiantar.
Peristiwa bersejarah tersebut menandai lahirnya GKPS sebagai gereja yang mandiri, bukan karena konflik atau perpecahan, melainkan sebagai bentuk pengakuan atas kedewasaan pelayanan gereja di Tanah Simalungun.
Dalam foto bersejarah yang kini telah diwarnai menggunakan teknologi digital, tampak Sekretaris Jenderal HKBP, Pdt. G.H.M. Siahaan, bersama pemimpin HKBP Simalungun, Pdt. Jenus Purba Siboro, menandatangani surat Panjaeon. Penandatanganan tersebut disaksikan oleh Pendeta Marantika dari Dewan Gereja Indonesia (DGI), yang kini dikenal sebagai Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).
Sejak penandatanganan itu, HKBP Simalungun resmi berganti nama menjadi Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Dalam sinode perdana, Pdt. Jenus Purba Siboro dipercaya sebagai Ephorus pertama GKPS, sekaligus menjadi tokoh sentral dalam perjalanan awal gereja tersebut.
Mengenal Pdt. Jenus Purba Siboro
Pdt. Jenus Purba Siboro lahir di Pematang Raya dan merupakan putra bungsu Tuan Toriahma Janni Purba Siboro, yang dikenal sebagai Panglima Tuan Rondahaim dari Haranggaol.
Kehidupan keluarganya menjadi contoh nyata toleransi beragama. Keluarganya berasal dari kepercayaan Parhabonaron sebelum kemudian memeluk agama Kristen setelah ayahnya menerima baptisan. Di lingkungan keluarganya juga terdapat anggota keluarga yang memeluk agama Islam, menunjukkan nilai toleransi yang telah dijunjung tinggi sejak lama.
Sepanjang pelayanannya, Pdt. Jenus Purba Siboro dikenal sebagai penginjil yang gigih dalam menyebarkan Injil di wilayah Simalungun. Salah satu jasanya yang dikenang adalah membaptis tokoh adat Simalungun, Tuan Sorbaradja Saragih Simarmata, pada tahun 1950. Ia juga menjadi tokoh yang memperkenalkan ajaran Kristen kepada pamannya, Tuan Immanuel Siboro di Haranggaol.
Awal Masuknya Injil di Tanah Simalungun
Sejarah GKPS bermula dari pelayanan para misionaris Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) asal Jerman pada awal abad ke-20. Pada 2 September 1903, Pendeta August Theis bersama para misionaris tiba di Pematang Raya untuk memulai pemberitaan Injil di Tanah Simalungun.
Sebelumnya, upaya penginjilan telah dilakukan sejak tahun 1900 oleh para penginjil Batak dari Pardonganan Mission Batak (PMB). Namun penggunaan bahasa Batak Toba sebagai bahasa pengantar membuat penyebaran Injil kurang efektif di kalangan masyarakat Simalungun.
Kesadaran akan pentingnya penggunaan bahasa Simalungun kemudian melahirkan gerakan pelayanan yang lebih dekat dengan budaya lokal. Gerakan inilah yang berkembang menjadi HKBP Simalungun hingga akhirnya memperoleh Panjaeon pada tahun 1963 dan resmi berdiri sebagai GKPS.
Hubungan HKBP dan GKPS Tetap Erat
Meski telah mandiri selama lebih dari enam dekade, hubungan antara HKBP dan GKPS tetap terjalin erat. Kedua gereja memiliki akar sejarah yang sama, menganut tradisi Lutheran, serta menjadi anggota United Evangelical Mission (UEM).
Momentum Panjaeon tahun 1963 menjadi bukti bahwa kemandirian GKPS lahir melalui kesepakatan dan semangat pelayanan, bukan karena perpecahan. Peristiwa tersebut hingga kini dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah Kekristenan di Tanah Simalungun dan Sumatera Utara.
Foto Bersejarah: Penandatanganan Surat Panjaeon HKBP kepada HKBP Simalungun pada 1 September 1963 di Pematang Siantar. Foto asli telah diwarnai menggunakan aplikasi digital.(Red)


0 Komentar