Pdt Grubert KD Manihuruk Pindah Tugah Pelayanan Ke GKPS Resort Batam Barat Distrik VI

Manurduk "Dayok Binatur"dari Jemaat Lansia.(IST) 

Dayok Nabinatur dan Air Mata Perpisahan: Jejak Pelayanan Pdt. Grubert Manihuruk yang Membekas di Hati Jemaat GKPS Distrik IV

Medan- Piring berisi "Dayok Nabinatur"kuliner khas Adat Simalungun itu diserahkan dengan penuh hormat. Di hadapan ratusan anggota Namaposo GKPS Distrik IV yang memadati GKPS Helvetia Resort Medan Barat, Selasa (16/6/2026), simbol budaya Simalungun tersebut bukan sekadar hidangan adat. Ia menjadi doa, harapan, sekaligus ungkapan kasih kepada seorang pelayan gereja yang telah berjalan bersama generasi muda dalam suka dan duka pelayanan.

Di momen itu, Pdt. Grubert KD Manihuruk menerima Hiou, cenderamata, dan penghormatan adat dari keluarga besar Namaposo GKPS Distrik IV Medan. Penyerahan dilakukan oleh Korpel Namaposo GKPS Distrik IV, Maria Gesly Saragih, bersama ASSB Namaposo GKPS Distrik IV Medan, Devina Fellycia.

Suasana haru tak dapat disembunyikan. Senyum dan tawa masih terdengar di berbagai sudut ruangan, tetapi mata yang berkaca-kaca menunjukkan bahwa pertemuan tersebut memiliki makna lebih dalam daripada sekadar kegiatan rutin organisasi gereja.

Hari itu menjadi pertemuan pertama pengurus periode 2026-2029 sekaligus menjadi salah satu momentum perpisahan yang penuh kesan bersama Pendeta Namaposo GKPS Distrik IV, Pdt. Grubert KD Manihuruk.

"Berpisah untuk bertemu kembali dalam suasana yang berbeda," demikian ungkapan yang berulang kali terdengar sepanjang kegiatan.

Simbol Budaya yang Sarat Doa

Dalam tradisi masyarakat Simalungun, "manurduk Dayok Mabinatur" merupakan bentuk penghormatan yang sarat makna filosofis.

Dayok atau ayam yang disusun secara teratur melambangkan keteraturan hidup, kebijaksanaan, persaudaraan, dan keseimbangan. Melalui tradisi tersebut, masyarakat menitipkan doa agar penerimanya diberikan kesehatan, kekuatan iman, keteraturan dalam pekerjaan, serta kepedulian terhadap sesama.

Makna itulah yang ingin disampaikan kepada Pdt. Grubert KD Manihuruk. Bagi anggota Namaposo GKPS Distrik IV, sosok Pdt Grubert KD Manihuruk yang dikenal dekat dengan kaum muda itu bukan hanya pemimpin rohani. Ia juga menjadi sahabat, pembimbing, dan penguat bagi banyak generasi muda yang sedang mencari arah kehidupan.

Karena itu, penghormatan adat yang diberikan bukan sekadar seremoni. Ia menjadi bahasa kasih yang lahir dari hubungan yang telah dibangun selama masa pelayanan.

Perjalanan Panjang Seorang Pelayan

Pdt. Grubert KD Manihuruk lahir dari keluarga sederhana yang berasal dari Hutaimbaru, Kecamatan Pamatang Silimahuta, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Ia merupakan putra dari almarhum St. Sudirman Manihuruk dan R. Br. Haloho (Haranggaol), serta cucu dari mendiang St. Moradim Efraim Manihuruk dan Ronta Porman Br. Haloho.

Perjalanan pelayanannya di GKPS telah melintasi berbagai daerah dan budaya. Karier pelayanan dimulai saat menjalani masa magang sebagai calon vikaris di GKPS Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tahun 2005, ia menjalani masa vikariat di GKPS Resort Bogor.

Setelah itu, pelayanan membawanya ke berbagai wilayah, mulai dari GKPS Buluraya, GKPS Resort Sibolga, hingga GKPS Resort Sipituhuta Situnggaling, Kabupaten Karo.

Di setiap tempat pelayanan, ia menghadapi tantangan yang berbeda. Namun satu hal yang tetap sama adalah komitmennya untuk melayani jemaat dengan pendekatan yang dekat dan membumi.

Partonggoan Namaposo GKPS Distrik IV yang dihadiri sekitar 570 peserta, Selasa 16 Juni 2026 di GKPS Helvetia Resort Medan Barat.

Pada September 2023, GKPS kembali mempercayakan tanggung jawab kepadanya sebagai Pendeta Namaposo GKPS Distrik IV Medan dan sekitarnya.

Perpindahan tugas tersebut menandai perubahan besar dalam ruang lingkup pelayanannya. Jika sebelumnya lebih banyak berfokus pada pelayanan jemaat resort, kini ia berhadapan langsung dengan dinamika generasi muda GKPS yang semakin kompleks di tengah perkembangan zaman.

Menyalakan Api Namaposo

Dalam masa pelayanannya, Pdt. Grubert KD Manihuruk dikenal aktif mendorong keterlibatan generasi muda dalam kehidupan gereja. Ia kerap menekankan bahwa gereja tidak boleh kehilangan generasi penerus. 

Karena itu, Namaposo harus menjadi ruang yang aman untuk bertumbuh, belajar, melayani, dan mempersiapkan masa depan. Pesan tersebut kembali disampaikan Pdt Grubert KD Manihuruk dalam Partonggoan Namaposo GKPS Distrik IV yang dihadiri sekitar 570 peserta, Selasa 16 Juni 2026 di GKPS Helvetia Resort Medan Barat.

Dalam refleksinya, ia mengajak generasi muda untuk menghargai setiap momen kehidupan. "Ingatlah selalu, apa yang terjadi hari ini akan menjadi kenangan indah di lain waktu. Karena itu jangan biarkan berlalu begitu saja. Setiap momen, sekalipun tidak direncanakan, memiliki makna yang akan kita pahami di kemudian hari," ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya persiapan dalam menghadapi masa depan. Menurutnya, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun generasi muda harus dibekali nilai, karakter, dan iman yang kuat agar mampu menghadapi perubahan zaman.

"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Tetapi hari ini kita bisa mempersiapkan diri. Sekecil apa pun persiapan itu harus diwariskan kepada generasi yang lebih muda agar mereka memiliki pegangan dalam menjalani kehidupan," katanya.

Pertemuan Terakhir, Bukan Akhir Perjalanan

Partonggoan yang berlangsung di GKPS Helvetia dipimpin langsung oleh Pdt. Grubert KD Manihuruk, sementara parambilan disampaikan oleh Pdt. Jan Risman Toni Saragih, S.Th., Pendeta Resort Medan Barat.

Turut menyampaikan sambutan antara lain pengurus Namaposo Resort Medan Barat, Pengurus Seksi Namaposo GKPS Sinode, serta unsur pimpinan Majelis Jemaat GKPS Helvetia.

Di tengah rangkaian acara, tampak pula sejumlah sahabat, rekan pelayanan, dan keluarga yang datang memberikan dukungan.

Bagi banyak peserta, pertemuan tersebut meninggalkan kesan mendalam. Tidak sedikit yang menyadari bahwa perpisahan adalah bagian tak terhindarkan dari pelayanan gereja.

Namun di balik perpisahan selalu ada harapan. Harapan agar benih-benih pelayanan yang telah ditanam terus bertumbuh. Harapan agar semangat Namaposo GKPS tetap menyala. Harapan agar tunas-tunas muda gereja semakin berkembang, berbuah, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Ketika acara berakhir dan para peserta mulai meninggalkan lokasi, kenangan tentang pertemuan itu tetap tinggal. Seperti makna "Dayok Nabinatur" yang diterima Pdt. Grubert, seluruh doa dan harapan yang dipanjatkan hari itu akan terus menyertai langkah pelayanannya ke depan.

Sebab dalam kehidupan bergereja, perpisahan bukanlah akhir dari pengabdian. Ia hanyalah penanda bahwa Tuhan sedang membuka lembaran pelayanan yang baru, di tempat yang berbeda, untuk menjangkau lebih banyak jiwa.

Dan bagi Namaposo GKPS Distrik IV, sosok Pdt. Grubert KD Manihuruk akan tetap dikenang sebagai salah satu pelayan yang pernah menyalakan semangat generasi muda untuk terus bertumbuh dalam iman, pelayanan, dan kasih kepada sesama. 

Keluarga Pdt Grubert KD Manihuruk/ Inang Br Purba dan tiga orang anak akan pindah pelayanan di GKPS Resort Batam Barat, Distrik VI. Semoga pelayanan di GKPS Resort Batam Barat, khususnya di GKPS Tanjung Piyu, Kepri lebih maksimal dan "Lambin Martangkupas Bani Jemaat". Semoga. (AsenkLeeSaragih) 
















0 Komentar