Partonggoan Parjumatanganan Sintua GKPS, Menjaga Api Pelayanan dan Kebersamaan Jemaat

Menjaga Api Pelayanan dan Kebersamaan Jemaat, Kamis (28/5/2026).

JAMBI-Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk dan individualistis, tradisi ibadah rumah tangga atau partonggoan masih tetap hidup dan menjadi kekuatan spiritual bagi jemaat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Salah satu bentuk pelayanan yang sarat makna itu terlihat dalam Partonggoan Parjumatanganan Tiga Sintua Gabungan Sektor Korintus GKPS Jambi yang berlangsung di rumah keluarga C.St S Purba/Br Munthe, Kamis malam (28/5/2026). 

Partonggoan Parjumatanganan Tiga Sintua Gabungan (St E Br Sitopu, St F Sipayung dan St MD Siallagan) Sektor Korintus GKPS Jambi di Rumah Keluarga C.St S Purba/ Br Munthe, Kamis (28/5/2026) dari Pukul 19.00 WIB hingga Pukul 20.30 WIB berjalan dengan baik. Kotbah dan Votum oleh St E Br Sitopu MPd, Doding Sy R Saragih M dan Doa Syafaat St F Sipayung, Musik Raja Purba.

Jumlah keluarga yang hadir 11 KK dengan rincian 10 laki-laki dan 11 perempuan, 3 anak sekolah minggu. Galangan I Rp 114.000,- Galangan II Rp 129.000 (Total Rp 243.000). Usai ibadah dilanjutkan dengan santap malam bersama yang menunya disediakan tuan rumah Kel C.St S Purba/ Br Munthe. Partonggoan Parjumatanganan Perdana di Sektor Korintus GKPS Jambi ini berjalan penuh sukacita dan rasa kekeluargaan.


Ibadah yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga 20.30 WIB tersebut dipimpin oleh tiga sintua gabungan, yakni St. E. Br Sitopu MPd, St. F. Sipayung, dan St. MD Siallagan. Suasana berlangsung khidmat namun hangat, dipenuhi nuansa kekeluargaan yang menjadi ciri khas pelayanan GKPS di tengah jemaat.

St. E. Br Sitopu MPd memimpin votum sekaligus menyampaikan khotbah yang mengajak jemaat untuk tetap menjaga iman, memperkuat kasih persaudaraan, dan mempertahankan semangat pelayanan di tengah berbagai tantangan kehidupan. Doding dibawakan oleh Sy. R. Saragih M, sementara doa syafaat dipimpin oleh St. F. Sipayung dengan iringan musik dari Raja Purba.

Sebanyak 11 kepala keluarga hadir dalam partonggoan tersebut, terdiri dari 10 laki-laki, 11 perempuan, dan tiga anak sekolah minggu. Kehadiran lintas usia itu menjadi gambaran bahwa gereja bukan sekadar tempat ibadah mingguan, melainkan ruang hidup bersama yang menumbuhkan nilai kebersamaan dari generasi ke generasi.

Dalam tradisi GKPS, Parjumatanganan Sintua bukan sekadar ibadah rutin. Kegiatan ini memiliki makna mendalam sebagai wadah pembinaan iman dan penguatan hubungan antara pelayan gereja dengan jemaat. 

Sintua atau penatua gereja hadir bukan hanya sebagai pemimpin ibadah, tetapi juga sebagai penggembala yang mendekatkan diri kepada keluarga jemaat, mendengar pergumulan mereka, serta membangun semangat saling menopang dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui ibadah rumah tangga seperti ini, gereja hadir lebih dekat dengan umat. Relasi yang terbangun bukan hubungan formal antara pengurus dan jemaat, melainkan hubungan kekeluargaan yang hidup. 

Di ruang tamu sederhana, doa-doa dipanjatkan, firman diberitakan, lalu percakapan dan kebersamaan mengalir tanpa sekat. Kadang manusia membutuhkan tempat seperti itu agar tidak merasa sendirian menghadapi dunia yang makin berisik dan melelahkan. Ironis memang, teknologi semakin canggih, tetapi banyak orang justru kehilangan ruang untuk benar-benar saling mendengar.

Partonggoan Parjumatanganan juga menjadi sarana menjaga budaya gotong royong dan solidaritas sosial di lingkungan gereja. Hal itu terlihat dari partisipasi jemaat dalam galangan dana yang terkumpul sebesar Rp243.000, terdiri dari Galangan I Rp114.000 dan Galangan II Rp129.000. Nilai tersebut mungkin tidak besar secara angka, tetapi mencerminkan semangat memberi dan kepedulian bersama yang terus dipelihara dalam kehidupan bergereja.

Usai ibadah, kegiatan dilanjutkan dengan santap malam bersama yang disiapkan oleh keluarga tuan rumah C.St S Purba/Br Munthe. Momen makan bersama menjadi simbol persekutuan yang sederhana namun penuh makna, mempererat hubungan antar jemaat sekaligus menghadirkan suasana kekeluargaan yang hangat.

Partonggoan Parjumatanganan perdana di Sektor Korintus GKPS Jambi ini pun berjalan dengan baik, penuh sukacita dan rasa persaudaraan. Jemaat berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan secara berkesinambungan sebagai bagian dari upaya memperkuat iman, menjaga kekompakan, dan merawat budaya pelayanan yang hidup di tengah gereja.

Sebab pada akhirnya, kekuatan gereja tidak hanya berdiri pada gedung atau organisasi, tetapi pada hati jemaat yang tetap mau berkumpul, berdoa, dan saling menguatkan. Hal-hal sederhana seperti itulah yang diam-diam menjaga manusia tetap bertahan. 

St E Br Sitopu.

Kotbah oleh St E Br Sitopu, Nats Kotbah diambil dari Injil Yesaya 44: Ayat 1-8. ”Tetapi sekarang, dengarlah, hai Yakub, hamba-Ku, dan hai Israel, yang telah Kupilih! Beginilah firman TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau.

Janganlah takut, hai hamba-Ku Yakub, dan hai Yesyurun, yang telah Kupilih! Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. 

Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air, seperti pohon-pohon gandarusa di tepi sungai. 

Yang satu akan berkata: Aku kepunyaan TUHAN, yang lain akan menyebut dirinya dengan nama Yakub, dan yang ketiga akan menuliskan pada tangannya: Kepunyaan TUHAN, dan akan menggelari dirinya dengan nama Israel.” 

Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ”Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. Siapakah seperti Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya dan membentangkannya kepada-Ku! Siapakah yang mengabarkan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang? 

Apa yang akan tiba, biarlah mereka memberitahukannya kepada kami! Janganlah gentar dan janganlah takut, sebab memang dari dahulu telah Kukabarkan dan Kuberitahukan hal itu kepadamu. Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!”

Tema Kotbah:
“Jangan Takut, Tuhan Tidak Pernah Meninggalkan Umat-Nya”

Bangsa Israel saat itu sedang mengalami tekanan dan ketidakpastian. Mereka merasa kecil, gagal, dan jauh dari harapan. Tetapi Tuhan datang bukan dengan hukuman terlebih dahulu, melainkan dengan panggilan kasih:

“Janganlah takut... Aku telah memilih engkau.”

Kadang manusia berpikir Tuhan hanya hadir saat hidup rapi. Padahal justru dalam tanah yang kering, Tuhan berjanji mencurahkan air kehidupan.

Doding Sy Rosenman Saragih M.

Poin Kotbah
1. Tuhan Mengenal dan Memilih Kita (Ayat 1-2)

Tuhan bukan sekadar mengenal nama kita. Dia membentuk hidup kita sejak dalam kandungan. Tidak ada hidup yang kebetulan. Banyak orang merasa tidak berharga, gagal, tidak berguna, kalah dibanding orang lain.

Tetapi firman Tuhan berkata, “Engkau pilihan-Ku.” Pilihan Tuhan bukan karena kita sempurna, tetapi karena kasih-Nya.

Aplikasi: Jangan ukur nilai dirimu dari omongan manusia atau media sosial. Hari ini orang dipuji karena followers, besok dilupakan karena algoritma berubah. Tragis sekali nasib spesies yang menyerahkan harga dirinya kepada tombol “like”.  Tuhan tidak pernah salah memilih. 

2. Tuhan Memberi Kehidupan Baru (Ayat 3-4)

“Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus...” Air melambangkan, pemulihan, kehidupan, Roh Kudus, kekuatan baru. 

Tanah kering tidak bisa menghasilkan apa-apa. Begitu juga hidup tanpa Tuhan, hati menjadi kosong, iman menjadi dingin, keluarga kehilangan damai, generasi muda kehilangan arah. Tetapi Tuhan berjanji mencurahkan Roh-Nya.

Hasilnya: “Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah air.” Artinya hidup yang tadinya layu menjadi bertumbuh kembali.

Aplikasi: Jangan menyerah hanya karena keadaan sedang sulit. Tuhan sanggup mengubah “kering” menjadi “subur”.

3. Identitas Kita Adalah Milik Tuhan (Ayat 5). “Aku kepunyaan TUHAN.” Ini pengakuan iman yang kuat. Dunia sekarang menawarkan banyak identitas, identitas berdasarkan uang, popularitas, jabatan, gaya hidup. 

Tetapi identitas terbesar orang percaya adalah, “Aku milik Tuhan.” Ketika seseorang sadar dirinya milik Tuhan hidupnya berubah, cara berbicaranya berubah, cara memperlakukan orang lain berubah.

Pesan penting untuk anak muda, jangan malu dikenal sebagai anak Tuhan. Dunia bisa berubah setiap detik, tren datang dan pergi lebih cepat dari kuota internet tengah malam, tetapi identitas di dalam Tuhan tetap kekal.

4. Tuhan Adalah Satu-Satunya Penolong (Ayat 6-8). “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian.” Tuhan menegaskan, Dia awal dan akhir, Dia Raja, Dia Penebus, Tidak ada Allah lain selain Dia.

Manusia sering mencari sandaran lain, kekuatan sendiri, uang, relasi, bahkan hal-hal duniawi yang sementara. Tetapi semuanya terbatas. Hanya Tuhan yang menjadi “Gunung Batu.” Artinya, tempat perlindungan, dasar yang kokoh, tempat aman saat badai hidup datang.

Aplikasi:
Saat hidup goyah, jangan lari terlalu jauh dari Tuhan. Banyak orang mencari ketenangan di tempat yang justru menambah kekosongan. Seperti minum air laut untuk menghilangkan haus. Sangat manusiawi. Sangat tidak efektif. 

Melalui Kitab Yesaya 44:1-8  Tuhan mengingatkan, Kita dipilih Tuhan, Kita tidak sendirian, Tuhan sanggup memulihkan hidup yang kering, Identitas kita adalah milik Tuhan, Hanya Tuhan Gunung Batu yang sejati. 

“Dunia bisa berubah, manusia bisa meninggalkan, keadaan bisa mengguncang, tetapi Tuhan tetap setia kepada umat pilihan-Nya.” Amin. 

Nats dari Kitab Yesaya 44:1-8 bukan sekadar penghiburan untuk bangsa Israel zaman dulu. Firman ini sangat relevan bagi orang Kristen sekarang yang hidup di tengah dunia modern yang cepat, keras, penuh tekanan, dan sering membuat manusia kehilangan arah hidup. 

Anggota Juma Tanganan Sintua

Sintua: St E Br Sitopu
1.Kel Pdt RN Saragih / br Sipayung
2.Kel P Girsang / br Sinaga
3.Kel Mauren Sinaga
4.Kel C.St Sp Purba / br Munthe
5.Kel A Damanik / br Simbolon
6.Kel J Munthe / br Girsang

Sintua: St F Sipayung
1.Kel J Saragih / br Purba
2.Kel Ny Purba br Sihombing
3.Kel Sahdam Silalahi
4.Kel S Saragih / br Tarigan
5.Kel Ny St JH Girsang br Sipayung.

Sintua: St Marderita Br Siallagan
1.Kel O Purba / Br Jawak
2.Kel B Purba / Br Saragih
3.Kel FN Damanik / Br Sitorus
4.Kel J Purba / Br Sitorus
5.Kel Sy R Saragih / Br Sinaga.

(AsenkLeeSaragih) 
















Galeri Foto Partonggoan Perdana Parjumatanganan Sintua GKPS Jambi, Kamis 28 Mei 2026























0 Komentar