Makna Pelayanan Jumatanganan Sintua Majelis GKPS


JAMBI-Di tengah dunia yang makin sibuk, individualis, dan penuh hubungan serba digital, pelayanan gereja sering terjebak hanya menjadi kegiatan mimbar, jadwal ibadah, dan rapat tanpa akhir. Manusia modern bisa aktif di gereja, tetapi tidak benar-benar saling mengenal. 

Ironis sekali. Jemaat duduk berdampingan setiap Minggu, tetapi tidak tahu siapa yang sedang menangis diam-diam di rumahnya sendiri. Di situlah pelayanan Jumatanganan dalam tradisi Gereja Kristen Protestan Simalungun menjadi sangat penting dan sangat bernilai rohani.

Dalam Tata Gereja GKPS dijelaskan bahwa Sintua memiliki tugas melakukan pelayanan penggembalaan kepada beberapa keluarga yang menjadi tanggung jawabnya, yang disebut Jumatanganan.


Apa Itu Jumatanganan?

Secara sederhana, Jumatanganan adalah sistem pelayanan penggembalaan di mana seorang Sintua bertanggung jawab mendampingi sejumlah keluarga jemaat tertentu. Namun sesungguhnya, Jumatanganan bukan sekadar “pembagian wilayah pelayanan”. Itu terlalu administratif dan terlalu dingin untuk menggambarkan makna aslinya.

Jumatanganan adalah bentuk nyata bahwa gereja hadir sampai ke rumah-rumah jemaat. Pelayanan ini membuat gereja tidak berhenti di altar, tetapi berjalan masuk ke ruang keluarga, ke meja makan, ke rumah sakit, ke pergumulan ekonomi, ke konflik rumah tangga, bahkan ke air mata yang sering tidak terlihat saat ibadah Minggu.

Buku Parjumatanganan Sintua GKPS menggambarkan bahwa rumah tangga adalah “ladang Allah” tempat Sintua hadir sebagai gembala yang berjalan bersama umat dalam kehidupan sehari-hari.

Jumatanganan Adalah Pelayanan Penggembalaan

Dalam pemahaman iman Kristen, gembala bukan hanya orang yang berkhotbah. Gembala adalah orang yang mengenal domba-dombanya.

Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 10, bahwa gembala mengenal domba-dombanya satu per satu. Artinya pelayanan Kristen sejati bersifat personal, bukan massal semata.

Karena itu, Sintua dalam Jumatanganan dipanggil untuk, Mengenal keadaan keluarga jemaat, Mendoakan mereka, Menguatkan yang lemah, Menegur dengan kasih, Mendamaikan konflik, Menghibur yang berduka, serta Menjaga kehidupan iman jemaat.

GKPS sendiri mendefinisikan penggembalaan sebagai pelayanan untuk membimbing, menopang, menegur, menyembuhkan, dan mendamaikan warga jemaat agar hidup sesuai kehendak Allah.

Jadi Jumatanganan bukan formalitas kunjungan. Ini pelayanan hati. Dan manusia sering lupa bagian itu karena lebih sibuk menghitung jumlah program daripada kualitas kasih. Tradisi klasik manusia gereja, rapat lima jam, mendengar jemaat lima menit.

Sintua Bukan Sekadar Jabatan

Dalam budaya gereja kadang ada anggapan bahwa menjadi Sintua berarti memperoleh posisi terhormat. Padahal secara rohani, Sintua pertama-tama adalah pelayan.

Jumatanganan mengingatkan bahwa kehormatan Sintua tidak diukur dari, pakaian pelayanan, posisi duduk, atau seberapa sering memimpin ibadah.

Tetapi dari kesetiaan mengunjungi jemaat, kepedulian terhadap keluarga, kerendahan hati, dan keberanian memikul pergumulan umat.

Pelayanan seperti ini melelahkan. Karena manusia nyata jauh lebih rumit daripada teori pelayanan di atas kertas. Ada jemaat yang sakit, kecewa, kehilangan pekerjaan, bermasalah dalam rumah tangga, bahkan menjauh dari gereja. Di situlah Sintua dipanggil hadir, bukan hanya saat suasana gereja sedang meriah dan penuh foto dokumentasi.

Jumatanganan Menjaga Gereja Tetap Hidup

Gereja bisa memiliki gedung besar, sound system mahal, dan acara megah. Tetapi tanpa penggembalaan yang dekat dengan jemaat, gereja perlahan menjadi dingin.

Jumatanganan menjaga gereja tetap hidup karena jemaat merasa diperhatikan, hubungan antarwarga lebih dekat, persoalan jemaat cepat diketahui, dan iman keluarga terus dipelihara.

Sistem ini sebenarnya sangat kuat secara pastoral. Bahkan banyak gereja modern kehilangan kedekatan seperti ini karena terlalu fokus pada organisasi dan melupakan relasi.

Pembinaan GKPS tahun 2026 ini juga menekankan pentingnya Parjumatanganan sebagai bagian utama kehidupan bergereja dan integritas majelis jemaat.

Tantangan Pelayanan Jumatanganan Saat Ini

Pelayanan Jumatanganan di zaman sekarang menghadapi banyak tantangan:

1. Kesibukan hidup modern

Orang makin sibuk bekerja, sekolah, dan beraktivitas. Hubungan sosial menjadi renggang.

2. Pelayanan yang kadang menjadi formalitas

Ada pelayanan yang akhirnya hanya sekadar mendata keluarga atau hadir saat ada acara tertentu saja.

3. Jemaat yang makin sensitif dan kompleks

Masalah keluarga, ekonomi, mental, media sosial, hingga konflik generasi membuat pelayanan pastoral semakin berat.

4. Kurangnya keteladanan

Kadang jemaat kehilangan kepercayaan jika pelayan gereja tidak hidup sesuai ajaran Kristus. Karena itu Jumatanganan membutuhkan, ketulusan, integritas, kesabaran, dan kehidupan doa yang kuat.

Tanpa itu, pelayanan berubah menjadi rutinitas kosong. Dan dunia sudah terlalu penuh rutinitas kosong, manusia bahkan bisa hadir secara fisik sambil jiwanya entah parkir di mana. 

Pelayanan Jumatanganan Sintua Majelis GKPS adalah warisan pelayanan yang sangat indah dan sangat relevan. Ini bukan sekadar sistem organisasi gereja, melainkan wujud kasih Kristus yang hadir secara nyata di tengah keluarga jemaat.

Melalui Jumatanganan, gereja menunjukkan bahwa setiap keluarga penting, setiap pergumulan layak didengar, dan setiap jemaat layak digembalakan dengan kasih.

Sintua GKPS dipanggil bukan hanya menjadi pemimpin ibadah, tetapi menjadi sahabat rohani bagi jemaatnya. Sebab gereja yang kuat bukan hanya gereja yang ramai, melainkan gereja yang saling menjaga dan saling menggembalakan dalam kasih Tuhan.Semoga. Selamat Manjumatangani Jemaat. (Berbagaisumber/AsenkLeeSaragih)

0 Komentar